‘MADRASAH’ PUASA
                                                 Oleh : Imam Suprayogo

 

Dalam Islam, pendidikan berlangsung seumur hidup, atau kata Nabi Muhammad SAW, minal mahdi illa lahdi, dari ayunan sampai liang lahat. Pendidikan tidak mengenal berhenti, apalagi istirahat. Kehidupan sendiri, bagi seorang Muslim, harus dimaknai sebagai proses pendidikan. Pendidikan adalah proses menjadi lebih baik dan atau lebih sempurna.

Semua orang menghendaki agar hidupnya memperoleh derajat mulia, selamat di dunia dan di akhirat. Kemuliaan dan keselamatan itu, dalam Islam harus diraih melalui keimanan dan amal saleh serta berakhlakul karimah. Iman letaknya di hati adalah merupakan pemberian Allah SWT. Sementara orang menjadi beriman, kenyataannya justru sering berlaku sebaliknya, begitu banyak orang telah menyandang ilmu pengetahuan, namun dia tak kunjung beriman.

Iman dalam Alquran disebut terlebih dahulu sebelum menyebut ilmu. Yarfa’illahulladziina aamanu minkum walladzina uutul ilma darojaat. Iman dapat menjadikan ilmu bertambah, tetapi dengan ilmu belum tentu iman menguat. Iman berada pada ketentuan Allah SWT bernama hidayah. Sedangkan hidaya tidak bisa dicari, melainkan hanya diperoleh melalui permohonan kepada Allah SWT.

Puasa diserukan hanya kepada orang yang telah beriman dan bukan ditujukan kepada orang yang belum beriman. Mengapa demikian ? Sebab, tidak akan mungkin orang yang tidak beriman akan menjalankan puasa. Puasa adalah kegiatan yang pelakunya harus yakin kegiatannya tidak saja disaksikan manusia, melainkan selalu berada pada pengawasan Allah SWT.

Ya, orang puasa tidak membutuhkan saksi, yang paling tahu seseorang puasa atau tidak hanyalah yang bersangkutan. Orang yang masih belum bisa berhenti dari kegiatan menipu, jelas sulit menjalankan puasa. Ia hanya akan berpura-pura berpuasa, padahal hakikatnya ia tidak menjalankan ibadah itu. Oleh karena itu, siapa saja yang mampu menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh, maka artinya dia sudah lulus dari ujian untuk menghindar dari perbuatan tercela. Wallahu a’lam.

 

Republika, Hikmah, 4 September  2008

 
D I A M 09/15/2008
 

                                                                  D I A M
                                                      Oleh : Uts M Arifin Ilham
 

Puasa adalah diam.Tentu bukan semarang diam, bukan takut kebenaran, bukan karena bodoh, tetapi diam bernilai ibadah karena sedang berpuasa. Kalau diamnya saja bernilai ibadah, apalagi kalau beraktivitas ibadah dan beramal shaleh, membaca Alquran, menuntut ilmu, sedekah, mencari nafkah yang nakal, sampai berdakwah. Maka, sungguh pantaslah mereka berpuasa mendapat nilai berlipat ganda dari Allah. Subhanallah.

Diamnya orang mukmin adalah tafakur dan tadabur, Dari mana aku ? Di mana Aku ? Ke mana aku akhirnya ? Rotasi dan evolusi alam ini dalam miliaran galaksi yang mencengangkan para kosmolog, renungan inilah membuat orang beriman itu bersujud di haribaan Allah.

Allah SWT berfirman dalam surat Qaf [50] ayat 18 :

18.  Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.

Rasulullah SAW pun mengingatkan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat hendaklah berkata baik, benar, jujur, sopan, santun, mulia, kalau tidak maka lebih baik diam.” Karena itu aktivitas lisan orang mukmin hanya dua, kalau tidak bisa bicara baik maka diam, tetapi kalau bisa bicara baik itu lebih baik daripada diam.

Sungguh tepatsikap Siti Maryam menghadapi fitnah dengan diam, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa – berdiam untuk Tuhan yang Mahakuasa maka aku tidak berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” Ada waktu untuk bicara, ada tempatnya untuk bicara, bahkan kadang tidak hanya untuk menyampaikan tetapi yang lebih penting adalah sampai, karena itu ayat-ayat Alquran menggambarkan ucapan orang yang takut kepada Allah ;qaulan sadidan – ucapan tegas  QS. Al-Azhab [33] : 70

70.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar,

qaulan tsaqiilan – ucapan berbobot lihat QS. Al-Muzzammil [73] : 5

5.  Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.

Qaulan layyinan – ucapan lembut lihat QS. Thaahaa [20] : 44

44.  Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".

dan qaulan ma’ruufan – ucapan baik – sopan lihat QS An-Nisaa [4] : 5

5.  Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum Sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan Pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

Sungguh betapa banyak orang yang diam-diam itu tatkala berbicara mengagumkan karena ia berdiam, mendengar, merenung, baru berbicara. Subhallah

 

Republika, Hikmah, 3 September  2008

 
 

                           AMALAN NABI DI BULAN SUCI
                                          Oleh : KH Ali Mustafa Yakub

 
Sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW, kita perlu mengetahui apa saja yang dilakukan beliau pada bulan Ramadhan. Hal itu agar dalam menjalankan ibadah Ramadhan kita tidak menyimpang dari tuntunan beliau.

Setiap malam pada bulan Ramadhan, melaikat Jibril datang menghadap Nabi SAW dan mendengarkan bacaan Alquran dari Nabi SAW.

Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, “Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan dalam melakukan kebajikan, lebih-lebih pada Ramadhan. Karena malaikat Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan sampai Ramadhan habis. Nabi SAW membacakan Alquran kepada malaikat Jibril. Bagi Jibril, Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan dalam melakukan kebajikan bagaikan angin yang kencang. (HR Imam Al-Bukhari).

Tadarus ini kemudian ditradisikan oleh umat Islam dengan membaca Alquran sebanyak-banyaknya setiap datang bulan Ramadhan.

Nabi SAW adalah seorang yang dermawan. Dan pada bulan Ramadhan Nabi SAW lebih dermawan ketimbang bulan-bulan lainnya. “Kedermawanan Nabi SAW ini oleh sahabat Abdullah bin Abbas RA diibaratkan seperti dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari tadi, sebagai angin yang kencang (al-rih-al-mursalah).

Pada masa Nabi SAW shalat malam khusus pada bulan Ramadhan disebut Qiyamul Ramadhan (shalat malam Ramadhan). Belakangan istilah shalat malam Ramadhan ini dibakukan menjadi shalat tarawih.

Dalam hadis yang shahih (valid) Nabi SAW bersabda, “Siapa yang melaksanakan qiyamul Ramadhan (shalat Tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Imam Al-Bukhari)

Nabi SAW membagi bulan Ramadhan menjadi dua periode. Periode pertama, tanggal satu sampai 20. Periode kedua, tanggal 21 sampai akhir Ramadhan. Pada periode pertama, Nabi SAW masih biasa-biasa saja dalam beribadah. Tetapi, pada periode kedua, beliau tancap gas, mengonsentrasikan diri untuk beribadah di masjid, khususnya pada malam hari.

 
Republika, Hikmah, 2 September  2008

 
 

                                      PUASA DAN KESABARAN
                                                   Oleh : KH Tarmizi Taher

Kesabaran adalah gambaran kematangan jiwa manusia. Manusia modern sering kali mengejek sikap sabar itu sebagai sesuatu yang pasif, tak dinamis dan gambaran keputusasaan anak manusia.

Padahal, agama menggambarkan sabar sebagai sikap orang yang tabah, gigih, pantang menyerah, serta tekun mengatasi kesulitan hidup.

Seseorang yang puasa karena cinta kepada Allah SWT, pasti tak pernah merasa berat menahan lapar dan haus. Cinta itu akan menjadi motor rohaninya. Dengan sifat sabar, Muslim yang berpuasa sanggup menunggu saat waktu atau sahnya melepas lapar dan dahaga.

Dengan cinta kepada Allah SWT, semua penderitaan puasa terasa ringan. Ibarat seorang istri yang melayani suami dengan penuh cinta, pasti tiada terasa beratnya mengurus anak, pakaian dan dapur.

Dengan cinta kepada Allah SWT, semua penderitaan puasa terasa ringan. Ibarat seorang istri yang melayani suami dengan penuh cinta, pasti tiada terasa beratnya mengurus anak, pakaian dan dapur.

Sungguh, cinta dan iman kepada Allah SWT adalah sumber tenaga yang dapat menimbulkan kesabaran rohani dalam batin dan perasaan orang yang berpuasa. Cinta dan iman kepada Allah SWT itu yang menumbuhkan sikap tekun, tabah dan gigih dalam melaksanakan perintah Allah SWT.

Orang-orang yang sabar menunjukkan sikap hidup yang disiplin dan konsisten, bersumber dari kepatuhan, ketaatan, dan kecintaan kepada Allah SWT. Mereka akan mendapat pahala taida batas.

Manusia sering kali menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang kerap terjatuh pada keputus asaan jika menjumpai kelambatan dan kesukaran. Hal itu tampak dalam kelambatan dan kesukaran kehidupan rumah tangga.

Maka, kesabaran adalah tenaga rohani dan modal kejiwaan yang sangat dibutuhkan anak cucu Adam dalam mengarungi abad yang serba mudah dan cepat ini.

Bulan Ramadhan akan melatih untuk bersabar dan mengendalikan emosi. Dengan puasa, kita juga dilatih menjaga kebersamaan dan komunikasi kepada Allah SWT dan sesama manusia.

Sebab, puasa tak hanya baik bagi kesehatan raga, terutama sangat baik bagi kesehatan jiwa. Dengan puasa, sejat jasmani dan rohani akan dapat kita raih. Semoga.

Republika, Hikmah, 1 September  2008

 
DENGAN DZIKIR 09/08/2008
 

                                          DENGAN DZIKIR
                                          Oleh : Ridho Adriansyah

 
QS. Al-Ahzab [33] : 41- 42
41.  Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
42.  Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.

Allah SWT senantiasa menyanjung dan memuji hamba-hambanya yang selalu berdzikir. Dzikir adalah ruh dari perbuatan baik sebagai bentuk ketaatan menjalani perintah-Nya. Sebauh perbuatan yang baik jika tidak disertai dzikir, maka ia adalah laksana tubuh yang tidak mempunyai ruh. Tubuh yang tidak mempunyai ruh, maka ia dinamakan sebagai mayat. Mayat tak lebih berharga pula, maka dia disebut bangkai.

Shalat, berhaji dan berjihad hingga ibadah-ibadah sunah lainnya haruslah senantiasa disertai pula dengan dzikir kepada-Nya.

QS. Al-Jumu’ah [62] : 10
10.  Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Allah telah menegaskan berulang-ulang bahwa kesuksesan dalam beribadah dan kebahagiaan itu terkait dengan memperbanyak mengingat-Nya. Maka, janganlah kamu sekali-kali lupa kepada perintah-perintahnya itu.

QS. Al A’raf [7] : 205
205.  Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

“Sesungguhnya, perumpamaan orang-orang yang berdzikir kepada Allah itu dan orang-orang yang tidak berdzikir kepada-Nya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR Abu Musa)

Maka, sesungguhnya mereka yang berdzikir itu ibaratnya seperti orang yang hidup dalam rumah kehidupan. Sedangkan, orang yang lalai berdzikir kepada Allah itu seperti orang yang mati dalam rumah kematian. Jasad orang yan lalai berdzikir kepada Allah adalah kuburan bagi hati mereka, dan hati mereka itu seperti mayat yang ada dalam kuburan.

Orang yang senantiasa tida lalai mengingat Allah di kala duduk dan berbaring, di kala pagi dan petang, sesungguhnya mereka telah hidup sesuai dengan firman dan petunjuk Allah SWT. Merekalah orang yang beruntung menjalani hidup di dalam rumah kehidupan dunia yang penuh berbagai cobaan sebelum kematian sesungguhnya datang menghampiri.

Republika, Hikmah, 2 Juni 2008